
Jakarta. Mahasiswa Prodi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Sebanyak 200 melaksanakan kegiatan Rihlah Ilmiah ke Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Rabu, 24 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembelajaran berbasis lingkungan (environment-based learning) yang diselenggarakan oleh Program Studi PAI sebagai wujud nyata integrasi antara kajian teoritis di kelas dengan pengalaman lapangan yang bermakna.
Kegiatan Rihlah Ilmiah ini dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., dan didampingi oleh tiga dosen PAI (Dr. Suklani, M.Ag., Umihani, M.Pd.I., dan Neily El Izzah, M.Pd.) yang bertanggung jawab memberikan penguatan materi secara kontekstual selama kunjungan berlangsung. Kehadiran langsung pimpinan prodi mencerminkan komitmen program studi dalam memastikan setiap agenda akademik berjalan secara terstruktur, terarah, dan memiliki nilai pedagogis yang tinggi bagi mahasiswa.
Masjid Agung At-Tin dipilih sebagai destinasi rihlah bukan tanpa alasan. Masjid yang mulai dibangun pada April 1997 dan diresmikan pada 26 November 1999 ini merupakan karya arsitektur monumental yang memadukan nilai-nilai estetika Islam dengan kearifan lokal Nusantara. Dirancang oleh pasangan arsitek Ahmad Noe'man dan Fauzan Noe'man, masjid ini menempati area seluas 70.000 meter persegi dan mampu menampung sekitar 9.000 jamaah di ruang utama. Namanya diambil dari Surah ke-95 dalam Al-Qur'an, yakni Surah At-Tin, yang sarat dengan pesan tentang kemuliaan dan martabat manusia.
Selama kegiatan, mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi masjid secara mendalam dari berbagai dimensi keilmuan. Di bidang Tafsir dan Ulumul Qur'an, mahasiswa mendiskusikan kandungan dan konteks turunnya Surah At-Tin serta relevansinya dengan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam. Dalam aspek Sejarah Peradaban Islam, mahasiswa mengamati perpaduan arsitektur Ottoman Turki dengan ornamen khas Nusantara berbentuk limas atau joglo yang hadir pada setiap sudut bangunan. Simbol anak panah yang menghiasi seluruh dinding masjid pun menjadi bahan kajian tersendiri — sebuah pesan visual bahwa umat Islam tidak boleh berhenti bersyukur kepada Allah SWT dari awal hingga akhir hayatnya. "Masjid bukan sekadar tempat salat. Ia adalah laboratorium peradaban Islam yang menyimpan dimensi teologis, historis, estetis, dan pedagogis sekaligus."Tutur Ketua Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Ketua Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Maryam menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari konsep pembelajaran kontekstual yang menjadi visi prodi. "Masjid bukan sekadar tempat salat. Ia adalah laboratorium peradaban Islam yang menyimpan dimensi teologis, historis, estetis, dan pedagogis sekaligus. Inilah yang ingin kami tanamkan kepada mahasiswa PAI, bahwa sumber belajar itu tidak terbatas pada ruang kelas dan buku teks," tegasnya di sela kegiatan.
Para mahasiswa juga diajak untuk mengobservasi bagaimana tata kelola Masjid Agung At-Tin dijalankan sebagai model pemberdayaan masjid yang profesional dan berbasis komunitas. Lanskap masjid yang menghadirkan unsur air sebagai simbol kesejukan dan rasa syukur, selasar tertutup yang fungsional, hingga taman yang asri menjadi kajian tersendiri dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam dan Fiqh Masjid. Mahasiswa mencatat berbagai temuan lapangan yang kemudian akan dianalisis dalam tugas refleksi akademik pasca kegiatan.
Rihlah Ilmiah ini juga menjadi momentum penting bagi mahasiswa PAI untuk menghayati nilai-nilai moderasi beragama (wasathiyyah) secara langsung melalui artefak budaya Islam. Masjid At-Tin yang menggabungkan unsur Timur Tengah, Eropa, dan Nusantara dalam satu kesatuan yang harmonis menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang terbuka terhadap keberagaman budaya tanpa kehilangan identitas dan akidahnya. Pelajaran inilah yang menjadi inti dari mata kuliah Moderasi Beragama yang diemban oleh Prodi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap kegiatan Rihlah Ilmiah semacam ini dapat terus diselenggarakan secara rutin sebagai bagian dari kurikulum pengayaan berbasis pengalaman. Mahasiswa yang kompeten dalam bidang Pendidikan Agama Islam tidak cukup hanya menguasai teori, melainkan juga harus mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah dalam setiap ruang dan peradaban yang mereka kunjungi. Kegiatan ini menjadi langkah konkret Prodi PAI dalam mencetak pendidik agama Islam yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap nilai-nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat dan kebudayaan Indonesia.