
Jakarta, 28 April 2026. Semangat untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi terus digelorakan oleh sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Hal ini terlihat nyata dalam rangkaian kegiatan intensif. Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan tata kelola program studi dan pemantapan strategi dalam meraih predikat akreditasi tertinggi, yakni peringkat Unggul, melalui koordinasi strategis dengan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).

Kepala Pusat Pengembangan Standar Mutu Digital, Dra. Hj. Ery Khaeriyah, M.Ag., dalam arahannya menekankan bahwa digitalisasi sistem penjaminan mutu bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Menurutnya, kesiapan dokumen digital yang terintegrasi menjadi kunci utama dalam memenangkan kepercayaan asesor. Ia menegaskan bahwa efisiensi pengelolaan data melalui platform digital akan memberikan gambaran objektif mengenai kinerja prodi yang akuntabel dan transparan.
Rangkaian kegiatan difokuskan pada sesi konsultasi krusial dengan pihak LAMDIK. Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi tim pengelola program studi untuk membedah secara mendalam proses akreditasi menuju peringkat Unggul. Diskusi diarahkan pada pemenuhan indikator kinerja utama yang sering kali menjadi titik krusial dalam penilaian asesor, sehingga setiap detail dokumen yang disiapkan benar-benar mencerminkan standar mutu yang diharapkan.
Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UINSSC, memimpin delegasi dengan penuh optimisme. Dalam pertemuan tersebut, ia secara aktif mengonsultasikan berbagai hambatan administratif yang dihadapi prodi. Dr. Siti Maryam menyampaikan bahwa komitmen program studi untuk bertransformasi menuju standar Unggul telah melalui proses internal yang panjang, dan bimbingan dari LAMDIK menjadi kompas penting agar arah pengembangan prodi tetap berada pada koridor yang tepat.
Turut mendampingi dalam pembahasan teknis, Achmad Zuhri, M.Pd., yang merupakan bagian dari Team Taskforce akreditasi PAI, memaparkan strategi lapangan dalam penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS). Ia menyoroti pentingnya konsistensi data dan narasi yang dibangun dalam dokumen usulan. Bagi tim taskforce, akurasi data menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar dalam proses asesmen yang ketat oleh LAMDIK.
Diskusi panjang yang berlangsung selama sesi konsultasi juga menyinggung berbagai solusi teknis terkait kendala akses dokumen pada sistem informasi yang ada. Tim dari prodi dan pihak LAMDIK berkolaborasi mencari jalan keluar agar kendala teknis tersebut tidak menghambat alur verifikasi. Hal ini dilakukan demi memastikan bahwa seluruh dokumen pendukung dapat terunggah dan terbaca dengan sempurna oleh para asesor nantinya.
Selain aspek teknis, pertemuan ini juga membahas mengenai percepatan proses verifikasi dan asesmen kecukupan. Pihak LAMDIK memberikan masukan berharga mengenai pentingnya efektivitas komunikasi antara pihak perguruan tinggi dengan lembaga akreditasi. Kecepatan dalam merespons umpan balik dari asesor menjadi kunci utama agar tahapan asesmen lapangan dapat segera dijadwalkan tanpa hambatan yang berarti.
Menutup rangkaian kegiatan hari kedua, seluruh tim menyatakan kesiapannya untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian dokumen sesuai dengan catatan yang diberikan selama konsultasi. Optimisme menyelimuti segenap tim PAI UINSSC yang menargetkan agar proses akreditasi ini berjalan lancar dan membuahkan hasil optimal. Langkah strategis ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam di Indonesia agar mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.