
Cirebon, Ruang Munaqosyah Gedung N 102 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menjadi saksi bisu lahirnya pemikiran-pemikiran segar dari para calon pendidik masa depan pada Selasa, 19 Mei 2026. Dalam pelaksanaan ujian munaqosyah gelombang 32, sepuluh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya sekadar mempertanggungjawabkan skripsi, tetapi juga mendemonstrasikan bagaimana nilai-nilai luhur Islam dapat beradaptasi dengan disrupsi digital.
Atmosfer di dalam ruang sidang terasa sangat intens dan sarat akan dialektika intelektual. Para mahasiswa memaparkan hasil riset yang sangat relevan dengan tantangan zaman, mulai dari internalisasi nilai ekoteologi untuk membentuk karakter peduli lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan aplikasi interaktif seperti Kahoot! dalam pembelajaran PAI. Keberanian mahasiswa dalam mengangkat isu-isu modern ini menunjukkan bahwa kurikulum PAI di kampus ini berhasil menyeimbangkan antara tradisi keilmuan Islam yang kuat dengan penguasaan alat bantu digital yang canggih.
Salah satu sorotan menarik dalam gelombang ini adalah riset mengenai pengaruh fitur animasi dan video interaktif Canva terhadap keterampilan berpikir kritis siswa, serta korelasi literasi digital dengan efektivitas evaluasi formatif. Judul-judul skripsi yang dipaparkan, seperti yang tertuang dalam data jadwal ujian, mencerminkan pergeseran paradigma pendidikan PAI yang kini lebih partisipatif, interaktif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di sekolah serta pesantren.
Ketua Prodi PAI, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., yang memimpin jalannya sidang sebagai ketua sidang, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya terhadap kualitas riset yang disajikan. Menurutnya, gelombang ke-32 ini menjadi penanda tingginya standar akademik yang terus dipertahankan oleh program studi. "Saya melihat antusiasme yang luar biasa. Mahasiswa kita telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar lulusan yang menghafal teori, tetapi pendidik yang mampu memberikan solusi aplikatif bagi problem pendidikan agama Islam di era siber," ungkapnya dengan antusias.

Lebih jauh, Dr. Maryam menekankan bahwa riset-riset yang dipresentasikan hari ini merupakan modal berharga bagi mahasiswa untuk berkiprah di masyarakat. Beliau berpesan agar para lulusan nantinya terus memegang teguh spirit inovasi yang mereka tunjukkan selama proses munaqosyah. Bagi beliau, tugas seorang sarjana PAI adalah menjembatani antara kebutuhan teknologi yang cepat dengan keteguhan iman dan karakter akhlaqul karimah para peserta didik di masa depan.
Dinamika di Gedung N 102 semakin hidup saat dewan penguji memberikan tantangan intelektual yang konstruktif. Setiap pertanyaan yang dilemparkan oleh tim pengujiseperti Dr. H. Mahbub Nuryadien, M.Ag., Yoyoh Badriyyah, S.Pd.I., M.Ag., hingga Neily El Izzah, M.Pd., mendorong mahasiswa untuk lebih tajam dalam menguraikan metodologi dan argumen penelitian mereka. Proses ini menjadi pembelajaran berharga bagi para mahasiswa untuk menguji ketahanan mental dan kedalaman analisis sebelum menyandang gelar sarjana.
Keberhasilan gelombang 32 ini tidak lepas dari sinergi luar biasa antara dosen pembimbing, penguji, dan mahasiswa. Data detail mengenai daftar pembimbing dan penguji yang menunjukkan bahwa setiap riset telah melalui pendampingan yang intensif dan berkualitas. Sinergi ini merupakan bukti komitmen prodi dalam menjaga marwah akademik dan memastikan setiap karya ilmiah yang dihasilkan memiliki kebermanfaatan luas bagi masyarakat.

Menutup rangkaian ujian, optimisme terlihat jelas dari wajah para peserta yang merasa lega sekaligus bangga. Hasil munaqosyah ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi para lulusan PAI untuk membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan Islam. Dengan tuntasnya gelombang 32 ini, Prodi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali mengukuhkan eksistensinya sebagai laboratorium pendidikan Islam yang adaptif, inovatif, dan selalu relevan dengan perkembangan zaman.