
Cirebon, Kamis 11 Juni 2026. Di tengah kesibukan rutinitas akademik yang padat dan tuntutan digitalisasi pendidikan yang kian pesat, keluarga besar dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC) mengambil langkah jeda yang bermakna. Rombongan dosen PAI melaksanakan kegiatan ziarah ke kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Jati, Cirebon. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan wisata religi, melainkan upaya batiniah untuk memperkuat akar spiritualitas dalam menjalankan tugas sebagai pendidik di era siber.
Langkah kaki para pendidik ini menapaki tangga demi tangga menuju makam salah satu wali penyebar Islam di tanah Jawa tersebut dengan penuh takzim. Suasana hening dan khusyuk menyelimuti rombongan saat melantunkan tahlil dan doa bersama di depan pusara Sunan Gunung Jati. Bagi para dosen, ziarah ini menjadi momentum refleksi diri untuk meneladani sifat-sifat kepemimpinan, kebijaksanaan, dan dedikasi Sunan Gunung Jati dalam berdakwah yang mengedepankan pendekatan budaya dan kemanusiaan.
Di era transformasi UIN menjadi universitas siber, para dosen PAI menyadari bahwa penguasaan teknologi harus dibarengi dengan kedalaman ruhani. Ziarah ke makam Syekh Syarif Hidayatullah ini dipandang sebagai pengingat bahwa meskipun institusi kini bergerak dalam ekosistem digital, nilai-nilai luhur kearifan lokal (local wisdom) yang diwariskan oleh para pendahulu harus tetap menjadi kompas moral dalam setiap kebijakan dan proses pembelajaran.
Ketua Prodi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., yang memimpin langsung kegiatan ini, menyampaikan bahwa ziarah adalah bagian dari upaya merawat tradisi intelektual-spiritual para pendidik. Menurutnya, menjadi dosen PAI di universitas berbasis siber memiliki tantangan yang unik, yakni bagaimana menyelaraskan teks keagamaan yang klasik dengan konteks masyarakat digital yang serba cepat.

"Kegiatan ziarah ini merupakan bentuk ikhtiar kami untuk mengambil ibrah atau pelajaran dari perjuangan Sunan Gunung Jati. Sebagai akademisi, kita tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan sejarah kita sendiri. Di UIN Siber Syekh Nurjati, kami ingin menanamkan bahwa teknologi adalah alat, namun ruh keislaman yang moderat, santun, dan inklusif adalah jiwa yang tidak boleh hilang dari setiap lulusan PAI," ujar Dr. Siti Maryam di sela-sela kegiatan.
Dr. Maryam juga menambahkan bahwa keberkahan dari ziarah ini diharapkan mampu memberikan energi positif bagi para dosen dalam meningkatkan dedikasi mereka di dalam kelas maupun dalam riset. Ia berharap para dosen dapat merefleksikan spirit "dakwah bil hikmah" Sunan Gunung Jati dalam menyusun kurikulum PAI yang lebih adaptif, humanis, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus kehilangan jati diri sebagai institusi pendidikan berbasis Islam.
Lebih lanjut, momen ziarah ini juga dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi antar-dosen. Di tengah tuntutan beban administrasi dosen yang semakin tinggi, kebersamaan di luar lingkungan kampus menjadi ruang bagi para dosen untuk saling menguatkan, berbagi inspirasi, dan menyamakan visi dalam mengembangkan program studi PAI ke arah yang lebih maju dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Kegiatan ziarah ditutup dengan doa bersama untuk keberlangsungan pendidikan di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon agar senantiasa memberikan kemaslahatan bagi umat. Para dosen pulang dengan membawa spirit baru, siap untuk kembali bergelut dengan inovasi digital di kelas, namun dengan hati yang tetap terhubung pada kearifan dan nilai-nilai luhur yang telah meletakkan dasar bagi peradaban Islam di bumi Cirebon.