
Jakarta. Ada keheningan yang berbeda ketika dua ratus pasang mata mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melangkah masuk ke dalam Museum Bayt Al-Quran di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Rabu, 24 Juni 2026. Di balik kaca-kaca pelindung, mushaf-mushaf tua berusia ratusan tahun tersimpan dalam diam memancarkan keagungan yang jauh melampaui usianya. Ini bukan sekadar kunjungan wisata. Ini adalah perjalanan intelektual dan spiritual yang menjadi bagian dari Kuliah Lapang Mata Kuliah Ulumul Quran, sebuah keputusan pedagogis yang berani untuk memindahkan ruang belajar dari bangku kuliah ke jantung peradaban Al-Quran Nusantara.
Kegiatan yang melibatkan seluruh mahasiswa PAI semester berjalan ini digagas dan dipimpin oleh dosen pengampu Mata Kuliah Ulumul Quran, Umihani, M.Pd., dengan didampingi dua dosen pendamping Program Studi PAI, Dr. Suklani, M.Ag. dan Neily El Izzah, M.Pd. Lebih dari sekadar hadir, Ketua Program Studi PAI, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., turut menyertai rombongan secara langsung sejak keberangkatan hingga kepulangan, sebuah sinyal nyata bahwa pimpinan program studi tidak hanya mendukung dari balik meja, tetapi hadir menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
"Al-Quran adalah peradaban yang hidup. Ketika mahasiswa kita berdiri di hadapan mushaf yang ditulis tangan oleh ulama Nusantara ratusan tahun silam, mereka tidak sekadar melihat artefak, mereka sedang berjabat tangan dengan generasi penjaga Al-Quran yang mendahului mereka. Dan kelak, merekalah yang akan meneruskan estafet itu kepada murid-murid mereka."
Komentar Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I., Ketua Prodi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Museum Bayt Al-Quran bukan sembarang museum. Diresmikan pada 1997 dan berada di bawah naungan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama Republik Indonesia, museum ini adalah satu-satunya institusi di Indonesia yang secara khusus mengoleksi, merawat, dan mengkaji mushaf Al-Quran dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia Islam. Di dalamnya tersimpan ratusan koleksi mushaf tulisan tangan yang dipenuhi iluminasi khas daerah-daerah di Indonesia: dari Aceh hingga Sulawesi, dari Kalimantan hingga Jawa, masing-masing membawa ciri khas kaligrafi, ornamentasi, dan tradisi penafsiran lokalnya sendiri. Mushaf-mushaf itu bukan benda mati; mereka adalah catatan hidup tentang betapa dalamnya akar Al-Quran menancap dalam jiwa peradaban bangsa ini.
Umihani, M.Pd., mengungkapkan bahwa pemilihan Bayt Al-Quran sebagai lokasi kuliah lapang lahir dari sebuah keyakinan sederhana namun mendalam: bahwa Ulumul Quran tidak bisa dipahami sepenuhnya hanya dari teks. Sejarah penulisan dan kodifikasi mushaf, ilmu qira'at, sejarah penafsiran, hingga tradisi tilawah yang beragam, semua itu menemukan konteksnya yang paling nyata ketika mahasiswa dapat menyaksikan langsung bagaimana manusia dari zaman ke zaman telah mencurahkan seluruh kecerdasan, keindahan, dan ketakwaannya untuk merekam, menjaga, dan memperindah kalam Allah. "Ketika mereka melihat sendiri mushaf-mushaf itu, saya yakin mereka akan pulang dengan pemahaman yang jauh lebih kaya dari apa yang bisa saya sampaikan di ruang kuliah," tuturnya.

Di dalam ruang-ruang museum yang tenang, Dr. Suklani, M.Ag. dan Neily El Izzah, M.Pd. memandu diskusi akademis yang hidup di hadapan koleksi-koleksi paling ikonik. Mahasiswa diajak mengidentifikasi ragam khat kaligrafi yang digunakan dalam mushaf-mushaf tua, menelusuri jejak perjalanan tradisi penulisan Al-Quran dari era sahabat hingga era percetakan modern, serta merenungkan bagaimana para ulama terdahulu membangun sistem ilmu-ilmu Al-Quran yang begitu sistematis dan kokoh. Diskusi mengalir bukan karena terpaksa mengisi waktu, tetapi karena mahasiswa sendiri merasakan dorongan ingin tahu yang terpatik oleh apa yang mereka saksikan, pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah muncul di ruang kelas tiba-tiba bermunculan dengan deras di antara deretan koleksi mushaf yang memesona itu.
"Menjadi pendidik agama Islam berarti menjadi penjaga dan pewaris cahaya Al-Quran. Kunjungan ini bukan akhir dari sebuah perjalanan belajar, ini adalah awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar."komentar dari Umihani, M.Pd., Dosen Pengampu Mata Kuliah Ulumul Quran
Yang paling menyentuh mungkin bukan koleksi-koleksi besar dan masyhur, melainkan momen-momen kecil yang terjadi di antara para mahasiswa sendiri: seorang mahasiswi yang terdiam lama di hadapan sebuah mushaf manuskrip berusia tiga abad sambil berbisik kepada temannya bahwa ia baru menyadari betapa berharganya Al-Quran yang selama ini ia pegang dan baca setiap hari; sekelompok mahasiswa yang dengan penuh semangat mendiskusikan perbedaan iluminasi antara mushaf dari Aceh dan mushaf dari Bugis; atau deretan mahasiswa yang antusias mencatat di buku mereka tentang sejarah mushaf cetak pertama di Indonesia. Momen-momen itu adalah bukti bahwa pembelajaran yang sesungguhnya tidak selalu bermula dari kata-kata seorang dosen, tetapi kadang dari pertemuan langsung antara jiwa yang belajar dan peradaban yang berbicara.
Tahukah Anda? Museum Bayt Al-Quran menyimpan lebih dari 200 koleksi mushaf dari seluruh Nusantara dan dunia Islam, termasuk mushaf tulisan tangan berusia lebih dari 300 tahun dengan iluminasi khas tradisi lokal. Museum ini juga dilengkapi Museum Istiqlal yang menyimpan artefak seni dan budaya Islam Indonesia, menjadikannya salah satu pusat kajian Islam terlengkap di Asia Tenggara.

Kuliah lapang Ulumul Quran ke Museum Bayt Al-Quran ini sejatinya adalah cermin dari visi besar Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: melahirkan pendidik agama Islam yang tidak hanya fasih dalam dalil dan teori, tetapi juga memiliki kedalaman jiwa, kepekaan peradaban, dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Quran sebagai pusat gravitasi seluruh ilmu dan kehidupan mereka. Ketika para mahasiswa itu kelak berdiri di depan kelas dan mengajarkan Al-Quran kepada murid-muridnya, semoga mereka ingat hari ini, hari ketika mereka menyentuh, melihat, dan merasakan bahwa Al-Quran adalah warisan peradaban yang dipercayakan kepada mereka untuk dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang melampaui batas-batas ruang kelas, mempertemukan mahasiswa dengan sumber-sumber pengetahuan yang hidup, autentik, dan membentuk karakter. Kuliah lapang Ulumul Quran ke Bayt Al-Quran ini hanyalah satu dari sekian ikhtiar program studi untuk mencetak generasi pendidik yang tidak hanya berilmu tinggi, tetapi juga berakhlak mulia, berjiwa besar, dan mencintai Al-Quran dengan sepenuh hati.