Berita & Informasi

Enam Mahasiswa PAI Pertahankan Karya Ilmiah Dalam Ujian Munaqosah Gelombang III Pesantren, Kearifan Lokal,  Hingga Inovasi Blended Learning

Cirebon, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menyelenggarakan Ujian Munaqosah, kali ini memasuki Gelombang III pada hari Kamis, 12 Maret 2026.

Cirebon, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menyelenggarakan Ujian Munaqosah, kali ini memasuki Gelombang III pada hari Kamis, 12 Maret 2026. Bertempat di Ruang Munaqosah Gedung N 102, enam mahasiswa secara bergantian mempertahankan hasil penelitian mereka di hadapan dewan penguji yang terdiri dari para dosen berpengalaman di bidang pendidikan Islam. Sidang dimulai sejak pagi hari pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga menjelang siang dalam suasana yang tertib, ilmiah, dan penuh semangat akademik—sebuah tradisi yang terus dirawat oleh program studi ini sebagai wujud komitmen terhadap kualitas lulusan sarjana pendidikan agama Islam.

Ujian Munaqosah dalam tradisi akademik perguruan tinggi Islam merupakan momen paling sakral sekaligus paling menguji dalam perjalanan studi seorang mahasiswa sarjana. Pada forum ini, mahasiswa tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga membuktikan bahwa mereka mampu berpikir kritis, membangun argumentasi ilmiah yang koheren, serta merespons pertanyaan penguji secara logis dan berdasar. Ujian ini merupakan kulminasi dari proses Panjang, mulai dari pengajuan proposal, penggalian data di lapangan, bimbingan intensif bersama dosen pembimbing, hingga penulisan laporan akhir yang memenuhi standar keilmuan. Gelombang III ini menjadi salah satu bagian dari siklus rutin yang dijalankan Program Studi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam rangka memastikan setiap lulusan melewati proses penjaminan mutu yang ketat dan terstandar.

Kandidat pertama yang maju pada pukul 08.30 WIB adalah Faturrahman Yasin, mahasiswa yang mengangkat tema peran kiai dalam membimbing akhlak santri di Pondok Pesantren Nurul Hayah 4, Desa Cigedang, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan. Penelitian ini menyentuh inti dari tradisi pesantren yang selama berabad-abad menjadi fondasi pendidikan Islam di Nusantara, yakni hubungan transformatif antara kiai dan santri dalam pembentukan karakter. Menyusul kemudian Fadeel Rizqi Sabhafari yang memaparkan penelitian tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Baritan di Desa Sendang, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, ebuah kajian etnopedagogis yang mempertemukan kearifan budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang universal. Dua penelitian pembuka ini bersama-sama menegaskan bahwa kajian pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-budaya tempat ia tumbuh dan berkembang.

Enam penelitian dalam gelombang ini mencakup spektrum yang luas: dari peran kiai dan kearifan lokal, konsep akhlak klasik dalam kitab kuning, inovasi microlearning dalam hafalan hadits, strategi pengembangan pesantren, hingga problematika model blended learning di era digital, sebuah gambaran utuh tentang kedalaman dan relevansi keilmuan Program Studi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Ujar Ketua Ptodi PAI, Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I.

Sesi ketiga diisi oleh Sri Nuryani yang membawa penelitian bertema konsep pendidikan akhlak menurut Imam Al-Mawardi dalam kitab klasik Ad-Dabu Dunya Waddin. Penelitian ini merupakan telaah mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik yang masih sangat relevan sebagai rujukan dalam pembentukan akhlak mulia di era modern. Setelah itu, Haniyah Nur Fadhiilah tampil dengan penelitian yang memadukan tradisi dan inovasi: implementasi metode One Day One Hadits berbasis microlearning dalam pembentukan kebiasaan menghafal hadits santri di Pondok Pesantren Daruttauhid Al-Ishlah Bobos. Penelitian ini merupakan salah satu yang paling inovatif dalam gelombang ini, karena secara berani mengintegrasikan konsep pembelajaran mikro berbasis teknologi ke dalam lingkungan pesantren yang identik dengan metode tradisional—sebuah perpaduan yang menunjukkan arah perkembangan pendidikan Islam ke depan.

Sesi kelima menghadirkan Maemuna yang memaparkan hasil penelitiannya mengenai strategi kiai dalam mengembangkan pembelajaran di Pondok Pesantren An-Najah. Penelitian ini melengkapi kajian tentang peran kepemimpinan kiai yang sebelumnya diangkat oleh Faturrahman Yasin, namun dengan fokus yang berbeda yakni pada dimensi manajerial dan pedagogis pengembangan sistem pembelajaran di pondok pesantren. Kedua penelitian ini, bila dibaca berdampingan, memberikan gambaran yang komprehensif tentang posisi sentral kiai sebagai pemimpin spiritual sekaligus inovator pendidikan di lingkungan pesantren. Pada sesi terakhir, Risma Solehah menutup rangkaian sidang dengan penelitian yang sangat kontekstual: implementasi dan problematika Forced Blended Model dalam pembelajaran PAI, dengan studi kasus tugas asynchronous di SMP Negeri Gunung Jati. Penelitian ini hadir sebagai refleksi kritis terhadap praktik pembelajaran campuran yang semakin marak pascapandemi, sekaligus mengidentifikasi tantangan-tantangan nyata yang dihadapi guru dan siswa dalam ekosistem pembelajaran daring-luring.

Dewan penguji yang hadir dalam sidang ini terdiri dari para akademisi senior Program Studi PAI yang telah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Dr. H. Agung, M.Ag., Dr. Siti Maryam Munjiat, M.Pd.I., Neily El Izzah, M.Pd., Achmad Zuhri, M.Pd., Muthoharoh, M.Pd.I., H. Mahbub Nuryadien, M.Ag., Zahrotus Saidah, MA.Pd., Dr. Iis Arifudin, M.Ag., dan Dr. A. Syathori, M.Ag. hadir memberikan penilaian yang objektif dan masukan konstruktif bagi setiap kandidat. Para dosen pembimbing: Muthoharoh, M.Pd.I., H. Mahbub Nuryadien, M.Ag., Dr. H. Agung, M.Ag., Neily El Izzah, M.Pd., Dra. Hj. Umamatul Khaeriyah, M.Ag., Dr. Iis Arifudin, M.Ag., Dr. Siti Maryam Munjiat, M.Pd.I., Achmad Zuhri, M.Pd., Dra. Darrotul Jannah, M.Ag., dan Dr. A. Syathori, M.Ag., juga turut hadir sebagai bagian dari komitmen bimbingan mereka yang tidak berakhir hanya di bilik konsultasi, tetapi berlanjut hingga hari pembuktian di ruang sidang.

Keberagaman tema penelitian dalam Gelombang III ini mencerminkan visi Program Studi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang mendorong mahasiswanya untuk peka terhadap berbagai lapisan realitas pendidikan Islam, mulai dari akar budaya lokal, tradisi keilmuan klasik, dinamika pesantren, hingga tantangan digitalisasi pembelajaran. Tidak ada satu paradigma tunggal yang dipaksakan; justru kekuatan program studi ini terletak pada kemampuannya menampung dan merawat keberagaman pendekatan riset, selama semuanya bermuara pada tujuan yang sama: meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Indonesia. Setiap judul yang diuji hari ini adalah cerminan dari pertanyaan-pertanyaan yang hidup di masyarakat dan membutuhkan jawaban akademis yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan terselesaikannya Ujian Munaqosah Gelombang III ini, Program Studi PAI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kembali menorehkan catatan positif dalam rekam jejak akademiknya. Keenam mahasiswa yang telah menyelesaikan sidang diharapkan menjadi sarjana yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga mampu mengaplikasikan hasil penelitian mereka dalam tugas-tugas nyata sebagai pendidik, peneliti, dan pemimpin di komunitas masing-masing. Program studi senantiasa mendorong para alumninya untuk terus belajar, berkarya, dan berkontribusi meneruskan estafet ilmu yang telah mereka terima selama bertahun-tahun belajar di kampus. Selamat kepada seluruh peserta sidang; perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

Topik Terkait:
#UINSSC #PAI
Keterkaitan SDGs:
SDGs 4 - Quality Education
Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas